fbpx

Kebanyakan orang agaknya memandang bahwa beasiswa ke luar negeri itu hanya untuk ‚Äúkaum terpilih‚ÄĚ. Alias, khusus bagi mereka yang cemerlang otaknya,¬†cas cis cus¬†bahasa Inggrisnya,¬†seabreg¬†prestasinya, dan lain sebagainya. Padahal,¬†nggak juga. Kita yang biasa-biasa saja juga¬†bisa¬†mendapatkan beasiswa tersebut sepanjang kita¬†mau¬†dan terus¬†berusaha.

Caranya? Meluruskan niat, seperti sering dinasehatkan kepada saya, barangkali menjadi langkah pertama. Niat yang baik akan membuka berbagai pintu keajaiban, khususnya apabila kita tidak yakin dengan kemampuan diri kita sendiri.

Sedikit sharing cerita, di awal tahun 2010 saya menerima e-mail resmi dari Universitas Bremen, Jerman, yang menyatakan bahwa saya gagal memperoleh beasiswa DAAD (Jerman). Saat itu, saya memang mendaftar menggunakan sertifikat bahasa Inggris yang tidak diakui secara internasional (saya pakai TOEFL ITP, mereka minta IELTS atau iBT yang sekali tes biayanya sekitar dua juta). Skornya juga kecil: 500 pas. Maka pantas apabila saya gagal.

Saat itu, sembari berusaha menerima takdir, saya terus berusaha ‚Äúmelobi‚ÄĚ Sang Pemilik Takdir. Dalam benak saya, kalau mereka yang berniat ‚Äúhappy-happy‚ÄĚ saja diberi rizki untuk ke luar negeri,¬†mososaya yang bertekad menuntut ilmu tidak diberi kesempatan?

Uniknya, yang terjadi berikutnya persis cerita novel. Beberapa minggu kemudian, sebuah e-mail resmi dari Universitas Bremen kembali menyapa. Isinya: ‚Äú‚Ķ¬†kami ternyata masih memiliki satu slot beasiswa lagi, dan kami tertarik mewawancarai Anda‚Ä̬†(di bawah ini adalah¬†screenshot¬†e-mail mereka).¬†Usai wawancara via¬†Skype yang boleh dibilang nyaris tanpa persiapan karena waktu yang sangat mendadak,¬†alhamdulillah¬†saya lolos!

Jadi kalau Sobat ingin sekolah ke luar negeri dan betul-betul tidak tahu harus mulai dari mana, meluruskan niat adalah awalan yang baik.

Karin
E-mail kedua yang mengabarkan bahwa DAAD ternyata masih memiliki satu slot kosong dan mereka ingin mewawancarai saya¬†ūüôā

Hal berikutnya yang perlu dipersiapkan ‚Äď sejak dini! ‚Äď adalah meraih¬†indeks prestasi kumulatif (IPK)¬†yang diperlukan (biasanya minimal 3,00). Ini syarat administratif. Tipsnya sederhana: saat kuliah,¬†kerahkan seluruh ikhtiar untuk mendapatkan nilai baik, meski mungkin kita tidak menyukai mata kuliah tersebut(ingat bahwa rasa benci kita pada mata kuliah tersebut bisa diubah belakangan, namun tidak dengan nilai yang sudah terlanjur tercetak di transkrip akademik). Selain itu, usahakan kita konsisten di bidang yang kita minati (misalnya jika punya¬†passion¬†di bidang biologi laut, maka idealnya mayoritas mata kuliah pilihan yang diambil juga konsisten yang berbau laut).

Ringkasnya: (1) meluruskan niat, (2) mencapai IPK minimal yang diperlukan, dan (3) memiliki kemampuan bahasa Inggris serta pengalaman kerja yang relevan adalah kunci untuk berkompetisi mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Ingat,¬†ngga¬†harus jenius untuk bisa memiliki keempat hal tersebut. Cukup terus berusaha sambil percaya bahwa keunikan bidang yang kita geluti secara konsisten bisa menjadi modal untuk mengalahkan mereka yang jenius sekalipun¬†ūüėČ

Good luck, Sobat!

Profil Pencerita: Nama saya Joko Pamungkas. Saya dilahirkan di Purwokerto (kota mendoan, makanan favorit saya) pada 06 November 1984. Pendidikan S1 ditempuh di Fakultas Biologi, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto (kampus yang selalu ngangenin). Sedangkan gelar S2 didapat dengan susah payah dari program studi International Studies in Aquatic Tropical Ecology (ISATEC), Fakultas MIPA, Universitas Bremen, Jerman, melalui beasiswa DAAD. Saat ini, saya tengah menempuh studi S3 di Institute of Marine Science, Fakultas Sains, Universitas Auckland, Selandia Baru, dengan beasiswa NZAS sebagai sponsor. Profesi saya adalah peneliti di Pusat Penelitian Laut Dalam, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), di Ambon, Maluku.

~Schoters~

The Largest Online Scholarship Platform