fbpx

Hampir di setiap aplikasi beasiswa studi lanjut, baik di tingkat S2 maupun S3, para penyedia beasiswanya menuntut aplikan untuk menulis esai. Singkatnya, kita sebut saja esai beasiswa. Esai beasiswa ini memiliki ragam istilah, mulai dari “Motivation Letter”, “Personal statement”, dan lain sebagainya.

Kenapa Harus Bikin Esai Juara?

Beberapa beasiswa yang populer dibahas belakangan ini juga menjadikan esai sebagai syarat pendaftaran. Di setiap aplikasi beasiswa LPDP misalnya, aplikan diminta untuk menuliskan 2 esai yang berjudul “Sukses terbesar dalam hidupku”, dan “Peranku untuk Indonesia” dalam masing-masing 300 kata.

Beasiswa populer lain seperti Fulbright, beasiswa paling bergengsi untuk studi di Amerika Serikat, juga mensyaratkan penulisan “Study Objective” yang dibatasi dalam 1 halaman. Beasiswa lain? Persyaratan untuk menuliskan esai akan kita akan temukan baik di Erasmus Mundus, Monbukagakusho, ADS, hingga Chevening. Kesimpulannya? Kita perlu tahu dong tips dan trik supaya bisa menulis esai beasiswa yang baik.

Baca Juga: 3 Tips Hadapi Leaderless Group Discussion LPDP

Kesalahan Umum dalam Menulis Esai

Dari hasil memeriksa lebih dari puluhan esai beasiswa yang masuk ke email saya, berikut ini saya paparkan beberapa kesalahan umum yang sering dilakukan, dilengkapi dengaln tips dan trik untuk membuat winning essay untuk mendapat beasiswa:

1. Terlalu banyak menggunakan bahasa yang normatif! (WALK THE TALK!)

Kesan pada panitia seleksi bahwa kita adalah orang yang mampu beradaptasi di lingkungan baru, kebanyakan akan menggunakan kalimat, “I spent 4 years of my bachelor study out of my town. I have succesfully adapted with life there.” Apakah ini contoh kalimat yang baik? Hmm, sepertinya tidak deh.

Lantas bagaimana? Kata kuncinya adalah selalu usahakan untuk “Walk the talk”. Artinya, usahakan untuk menceritakan lebih dan memberi contoh di luar batas yang normatif. Kenapa tidak seperti ini kata-katanya: “Only within a month I have befriended with all securities near my dormitory. Even though staying far from family, I could manage my GPA at 3,5, while still being active in club activities as a chairman of xxx in BEM” Nah, ini baru mantab! Berikan contoh yang konkrit, sehingga orang akan lebih mudah memahami dan menganalisa orang seperti apa kita.

2. Kurang paham apa yang dimaui oleh komite seleksi beasiswa… (UNDERSTAND THE NEEDS)

Kesalahan yang lazim dilakukan oleh aplikan adalah karena kurang banyak membaca profil si pemberi beasiswa. Umumnya beasiswa itu ada yang tipenya akademis banget, ada juga yang aktivis banget. Yang kita daftar yang tipe apa ya? Jamak disepakati orang bahwa beasiswa seperti Fulbright dan Chevening sangat concern terhadap aktivisme, sehingga komite seleksi akan lebih appreciate terhadap aplikan yang memiliki pengalaman organisasi yang banyak, atau pengalaman aktif di LSM.Sehingga, di esai beasiswa pun akan lebih pantas untuk ditonjolkan 1-2 paragraf di seputar hal tersebut, dibandingkan lebih banyak bercerita mengenai IPK kita yang di atas 3,5.

Lain halnya dengan beasiswa seperti Monbukagakusho atau Erasmus Mundus yang sangat fokus pada prestasi akademik. Pada aplikasi beasiswa yang seperti ini, akan lebih wajar jika kita menonjolkan di esai kita mengenai pengalaman berprestasi, misalnya asisten dosen, penelitian, prestasi akademis di kelas, dan yang semisal dengannya. Intinya lain lubuk lain ilalang, lain beasiswa lain fokus yang ditonjolkan. Pelajari baik-baik, sebelum memutuskan untuk memijit tuts-tuts di komputer kamu.
Semoga sukses dalam aplikasinya ya! Mari menuntut ilmu setinggi-tingginya untuk kemajuan bangsa!

Oleh: Radyum Ikono

Schoters

The Largest Online Scholarship Platform