fbpx

Sumber gambar: (instagram.com/ryantoanugroho)

Masih ingat dengan Wisudawan terbaik UNNES tahun 2014 lalu?

Raeni, wisudawan terbaik Jurusan Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi (FE) UNNES ini berangkat ke lokasi wisuda dengan kendaraan yang tidak biasa. Penerima beasiswa Bidikmisi ini diantar oleh ayahnya, Mugiyono dengan menggunakan becak. Mengapa becak? Karena Ayah Raeni adalah seorang tukang becak yang setiap hari mangkal tak jauh dari rumahnya di Kelurahan Langenharjo, Kendal.

Apakah kondisi ini membuat Raeni minder? “Dulu pernah minder karena orangtua tukang becak. Meskipun begitu, Saya tetap bangga karena dengan keterbatasan itu orangtua tetap mampu membiayai kehidupan saat kuliah dan selalu mendukung saya.” Kata Raeni.

Meski dari keluarga kurang mampu, Raeni berkali-kali membuktikan keunggulan dan prestasinya lho. Bahkan Penerima beasiswa Bidikmisi ini beberapa kali memperoleh indeks prestasi 4,00. Sempurna. 

Prestasi itu dipertahankan hingga ia lulus sehingga ia ditetapkan sebagai wisudawan terbaik dengan Indeks Prestasi Komulatif (IPK) 3,96. Dia juga menunjukkan tekad baja agar bisa menikmati masa depan yang lebih baik dan membahagiakan keluarganya.

“Selepas lulus sarjana, saya ingin melanjutkan kuliah lagi. Pengennya melanjutkan (kuliah) ke Inggris. Ya, kalau ada beasiswa lagi,” kata gadis cantik ini pada tahun 2014.

Birmingham_University

Photo by Ryan Arifianto Nugroho (instagram.com/ryantoanugroho)

4 tahun kini sudah berlalu. Tahukah teman-teman gimana keadaan Raeni sekarang?

Dan WOW! Raeni sekarang telah melanjutkan studi S3 di Birmingham, Inggris dengan Beasiswa LPDP. Sebelumnya, Raeni juga mendapatkan beasiswa S2 di University of Birmingham dan lulus pada Desember 2016 lho.

Lalu bagaimana prosesnya, hingga Raeni bisa seperti sekarang?

Sekolah setinggi mungkin bagi Raeni adalah bekal menghadapi tantangan di masa depan.  Seperti halnya investasi, terdapat bekal yang harus ditanamkan untuk menghasilkan something in return yang optimal. Apalagi sejak 1 Januari 2017 Raeni tercatat sebagai dosen di jurusan Pendidikan Ekonomi konsentrasi Pendidikan Akuntansi Universitas Negeri Semarang.  Raeni menyadari, bekal riset sangat ia butuhkan, untuk mewujudkannya salah satunya melalui studi S3 tersebut.

Dalam proses pencarian kampus, pada awalnya Raeni mendaftar di beberapa kampus di beberapa negara. Akan tetapi setelah konsultasi, diskusi dan mendapatkan beberapa saran, akhirnya ia menyelesaikan aplikasi pendaftaran di University of Birmingham, tempatnya studi S2.

Kalau ditanya apakah mendapatkan professor yang sama saat menyelesaikan tesisnya selama S2? jawabannya adalah tidak!. Karena saat S2, Professor Raeni berasal dari kampus lain. Raeni harus melewati proses wawancara dengan calon professor dan program director S3 hingga akhirnya mendapatkan surat pernyataan telah diterima di sebuah Perguruan Tinggi tanpa syarat (Unconditional Offer Letter). Perjalanannya mencari beasiswa juga tidak mulus.

Konsultasi Beasiswa

Konsultasi Beasiswa (unsplash.com)

“Awalnya saya dinominasikan dalam shortlist beasiswa dari kampus, namun untuk International Student tidak mengcover semua biaya. Jadi saya menyampaikan ke kampus bahwa saya tidak bisa menerima hanya partically funded.” ujarnya.

Selanjutnya ia mencoba mendaftar Beasiswa Unggulan Dikti dan LPDP, yaitu beasiswa untuk dosen. Namun Raeni langkah nya terhenti seketika karena belum mempunyai Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN). Pada saat itu, Raeni baru memiliki Nomor Induk Dosen Khusus (NIDK) yang membuatnya tidak bisa mendaftar.

“Lalu saya mendaftar beasiswa lanjutan LPDP, awalnya belum diterima karena ada salah satu persyaratan yang belum dimenuhi. Alhamdulillah, saya mendapatkan kesempatan untuk mendaftar lagi pada periode berikutnya dan lolos untuk direkomendasikan sebagai penerima beasiswa lanjutan dari magister ke doktoral LPDP,’’ papar Raeni.

Raeni sangat bersyukur berkat pendidikan dan pekerjaannya sekarang ini. Dia dapat mengangkat derajat keluarganya. Bahkan, dia masih ingat kalau dulu suka makan kecap dan kerupuk atau kecap dengan tempe, sesekali dengan telor. Untuk makan daging, Raeni dan keluarganya harus menunggu saat lebaran tiba.

Itulah, rasa syukur yang menjadikan setiap tahapan dalam kehidupan adalah nikmat yang tidak terhingga.

Baca Juga: 7 Universitas Terbaik di Dunia dalam Bidang Pendidikan

Birmingham University

Birmingham University (unsplash.com)

“Tentu untuk mencapai kesejahteraan secara ideal, kami masih dalam proses, karena saya baru 1 tahun bekerja dan saya sangat bersyukur mendapatkan pekerjaan yang dapat memenuhi kebutuhan tidak hanya secara material tetapi juga kebutuhan sosial” ungkap Raeni.

Raeni berpesan pada generasi muda untuk tetap semangat mengejar mimpinya. Tetap belajar, sebab belajar bisa dilakukan di mana pun dan kapan pun. Secara pribadi Raeni jarang mentarget waktu belajar.

Tetapi yang dia targetkan adalah aktivitas utama bisa dipenuhi atau tidak. Aktivitas tersebut meliputi waktu untuk menyelesaikan tugas, berdiskusi, berkumpul dengan keluarga dan aktivitas sosial.

Sahabat, janganlah takut untuk bermimpi. Teruslah berjuang dan gapai mimpimu. Karena setiap orang memiliki kesempatan yang sama. Tinggal diri sendiri yang akan menentukannya sobat.

Selamat berjuang dan semoga berhasil.

Schoters

The #1 and Largest Online Scholarship Platform

Refrensi:

Tribunjateng.com 

https://unnes.ac.id

 

Jangan Lupa Share Ke Teman-teman Kamu

shares