fbpx

Keterbatasan ekonomi seringkali membuat orang berhenti untuk menggapai mimpinya. Dengan tekad dan kemauan keras, semua yang dicita-citakan bisa terwujud. Kuncinya adalah mau berusaha dengan sungguh-sungguh. Ungkapan itu sepertinya layak disematkan kepada Muslihun.

Muslihun berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi yang serba terbatas. Ibunya berjualan di warung kecil. Barang dagangannya dibeli dari pasar kecil di desa. Setiap hari Ibu Muslihun mengambil barang di pagi hari dan harus dibayar malamnya setelah barang tersebut terjual.

Walaupun dagangan Ibu Muslihun kadang tidak laku juga. Ibunya-pun sering dimarahi saat pemilik barang menagih uang karena tidak bisa membayar lunas. Alasan tepatnya , jika uang hasil berjualan barang diberikan ke penjual, maka Muslihun tidak memiliki uang untuk berangkat sekolah.

Sekolah Muslihun terletak di kota, sedangkan Muslihun tinggal di desa yang untuk pergi ke sekolah membutuhkan ongkos tidak sedikit bagi keluarganya.

Sesudah Kesulitan Pasti Ada Kemudahan 

Tekun dan berdoala/Unsplash

Tekun dan berdoala/Unsplash

Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Hal inilah yang selalu di teguhkan Muslihun. Hingga akhirnya Muslihun mendapat kabar bahagia ketika dirinya mewakili sekolah dalam olimpiade fisika SMA/MA. Dari sana Ia dapat melunasi uang masuk sekolah.

Ketika Ujian Nasional, Muslihun mendapatkan nilai 10 di mata pelajaran matematika. Meskipun mendapatkan nilai sempurna di mata pelajaran killer. Kondisi ekonomi menuntutnya harus bekerja terlebih dahulu untuk mencari biaya. Setahun setelah lulus baru Muslihun bisa Kuliah.

Muslihun diterima di jurusan Fisika Universitas Diponegoro. Saat melihat pengumuman SPMB, Muslihun sangat senang karena diterima di UNDIP akan tetapi di saat bersamaan dia juga sedih karena tidak tahu dari mana mendapat uang masuk kampus. Syukurnya, dari pertimbangan pihak UNDIP, Muslihun diperbolehkan membayar biaya awal kuliah 1 juta dahulu dan sisanya dapat dicicil kemudian. Keluarganya susah payah untuk mendapatkan pinjaman 1 juta ke orang lain. Saat kuliah, bersyukur Muslihun bersyukur karena bisa mendapatkan beasiswa, meski hanya cukup untuk membiayai SPP dan PRKP setiap semester.

Perlu Bimbingan Untuk Daftar Beasiswa LPDP? Klik Disini

Bekerja Keras Untuk Membayar Kuliah

Perjuangan Untuk Kuliah/Unsplash

Perjuangan Untuk Kuliah/Unsplash

Selain Kuliah Musliuhun juga bekerja keras untuk menutupi biaya kuliahnya. Ia bekerja keras di sore hari dan bekerja lagi dari jam 10 malam sampai jam 6 pagi. Oleh karena itu, Muslihun sering mengantuk saat kuliah.

“Saya berjuang menuntut ilmu dan meraih cita-cita karna doa kedua orang tua selalu menyertai langkah saya” ungkap Muslihun.

Saat berangkat kuliah, Ibu memberi uang seribu rupiah. Muslihun tahu jumlah itu adalah yang terbaik yang bisa Ibunya berikan dengan kondisi ekonomi keluarga. Muslihun melihatnya sebagai bentuk kasih sayang yang luar biasa kepada anaknya. Meski penuh keterbatasan, Muslihun sama-sekali tidak merasa iri terhadap teman-teman yang mempunyai uang jajan lebih dari orang tuanya. Menurut Muslihun yang paling penting adalah do’a dari kedua Orang tua.

Saat berhasil lulus Ia merasakan aliran kebahagiaan yang begitu deras ketika melihat kedatangan kedua orang tua. Matanya berkaca-kaca mengingat wisuda ini adalah hasil jerih payah perjuangan yang sungguh luar biasa dan do’a dari kedua orang tuanya.

Sukses, merupakan pencapaian hasil yang relatif. Kedua Orang tuanya telah berjuang dengan susah payah, dengan berhutang bahkan sampai menanggung malu dimarah-marahin oleh orang lain demi pendidikannya. Maka sukses menurut Muslihun “pencapaian yang dimulai dari membalas jasa orang tua dengan membantu perekonomian mereka”.

Muslihun sangat berharap dapat membuat orang tuanya makan tanpa perlu berhutang lagi, dapat memperbaiki rumah yang semula pagarnya kayu yang bolong-bolong menjadi tembok sehingga mereka tidak kedinginan dan kebocoran saat hujan.

Walaupun Muslihun faham bahwa itu semua tidak dapat membalas jasa mereka. Disamping itu, Ia juga ingin membantu siswa-siswi yang mempunyai tekad untuk kuliah namun mempunyai keterbatasan ekonomi seperti . Ia bertekad untuk membantu mereka meraih cita cita dan agar mereka daapat ikut memajukan bangsa ini.

Pamit Kepada Ayah

Harapan Ayah/Unsplash

Harapan Ayah/Unsplash

Setiap orang pasti mempunyai mimpi yang tinggi. Begitu juga dengan Muslihun, akhirnya Muslih berhasil mendapatkan beasiswa LPDP dalam negeri dengan menempuh pendidikan Pascasarjana di Institut Teknologi Bandung.

Kelompok Keahlian yang Muslihun pilih adalah Fisika Material Magnetik dan Fotonik. Pendidikan Pascasarjananya seperti mahasiswa pada umumnya yaitu kuliah, mengerjakan tugas, penelitian dan tesis.

Namun Ia perlu membiayai pengobatan Ayahnya yang sudah mengalami stroke sebelum Muslihun kuliah S2. Biaya pengobatan Ayah Ia cari dengan cara menulis buku Fisika dan Matematika di salah satu penerbit terbesar di Indonesia.

Muslihun harus pintar-pintar membagi waktu antara kuliah dan menulis buku. Suatu hari saat Muslihun menjalani kuliah di semester III, Ia pamit berangkat ke Bandung untuk melanjutkan penelitian tesis. Muslihun mencium Ayahnya yang terbaring sakit di kamar. Sesampainya di Bandung, Muslihun bermimpi ayahnya meninggal. Begitu lega hatinya ketika mendapati bahwa itu hanya mimpi.

Akan tetapi, setelah beberapa saat Muslihun mendapat telepon dan diminta pulang karena Ayahnya telah meninggal. Ternyata kecupan kepada ayah saat itu merupakan pamitan terakhir Muslihun ke ayahnya. Muslihun begitu sedih karena terus teringat kondisi ketika Ayahnya terbaring di kamar, beliau selalu bilang ingin melihat Muslihun wisuda di Bandung.

Hingga akhirnya Muslihun lulus dengan IPK di atas yang disyaratkan LPDP. Muslihun mempunyai pesan masyarakat, khususnya yang memiliki nasib sama seperti dirinya.  

“Jangan takut bermimpi, jangan takut untuk meraih pendidikan tinggi. Tataplah masa depan dan jangan minder pada keterbatasan. Justeru di balik kondisi keterbatasan itulah ada proses kemandirian dan kedewasaan diri dibentuk”.

Sumber: https://www.lpdp.kemenkeu.go.id

Jangan Lupa Share Ke Teman-teman Kamu

shares